Archive | Fanfiction RSS for this section

[WonRae Series] Siwon’s Day And His Lullaby

-Raeseok PoV-

 

“Yak, Raeseok-ah hati-hati.”

 

Praaaaangg~

 

Terlambat. Aku menyenggol piring diatas meja tanpa sengaja -lagi. Entah itu sudah piring yang keberapa.

 

Aigooo, aku memandang sekeliling kamar hotel ini. Ck bagaikan kapal pecah. Bagaimana mungkin kamar ini bisa sekacau ini. Baiklah, tentu saja hal itu mungkin terjadi kalau aku yang ada dibalik semua ini. Ani, bukan hanya aku tapi Jiwon eonnie juga, kurasa.

 

“Aigoo, eonnie kamarku seperti kapal pecah.” aku berteriak frustasi.

 

Bagaimana tidak, kamar suit room ini dipenuhi alat-alat masak dan sebagainya. Kamar yang seharusnya hanya untuk tidur disulap menjadi dapur mini oleh Jiwon eonnie. Sayangnya sekarang dapur mini itu sudah tak berbentuk, parahnya kamar ini justru sudah tidak berbentuk seperti kamar lagi.

 

“Hehe mian,” Jiwon eonnie hanya memasang senyum tiga jari andalannya.

 

Toktoktok~

 

Aku segera berlari kearah pintu untuk membukanya.

 

“Annyeong~”

 

Seorang pria tampan dengan senyum cerahnya berdiri dihadapanku. Syukurlahhh,

 

“Eonnieee, kita selamat.”

 

###

 

Tarik napasss, hembuskannn, Tarik napasss, hembuskannn. Kenapa jadi aku yang gugup begini yaa.

 

Baiklah, aku ceritakan sedikit. Aku tengah berada di backstage Super Show 4 Paris. Untuk apa???? Tentu saja untuk memberi kejutan pada sii tuan muda Choi. Hari ini dia berulang tahun. Dan ditengah jadwalnya yang padat ia terpaksa merayakannya di tur konser Super Junior. Kasian memang, tapi mau diapakan lagi. Dia kan hallyu star yang jadwalnya padat merayap.

 

Oke, kembali ke back stage. Bersama Jiwon eonnie aku berjalan menuju sebuah pintu dengan tulisan ‘Super Junior’. Aduhh kenapa jatungku semakin bekerja tidak normal yaa. Ku akui ini memang surprise pertamaku untuk Siwon, tahun kemarin aku hanya ikut merayakan pestanya saja karna aku ada ujian saat member Super Junior memberikannya surprise. Kali ini, dengan sedikit bujuk rayu Jiwon eonnie dan bantuan Ryeowook oppa, aku berhasil membuat sebuah kue tart kecil untuk surprise Siwon. Ku tatap lagi kue berwarna putih yang dipenuhi hiasan coklat dengan satu lilin diatasnya ini, tidak terlalu buruk.

 

Kudengar suara ramai dari balik pintu. Jiwon eonnie dengan sigap membuka pintu dan kami pun masuk.

 

“Surpriseeee” Jiwon eonnie berteriak membuat semua orang yang ada diruangan itu menatap kami. Siwon yang tepat didepanku, berbalik menatapku lalu tersenyum.

 

“Oppaaaaa~ saeng-il chukhae,”

 

Tiba-tiba seorang yeoja masuk dari arah belakangku dan langsung menghambur kepelukan Siwon dengan satu tangannya tetap memegang kue tart yang lebih besar dari punyaku. Siapa dia????

 

“Ayo make a wish lalu tiup lilinnya,” seru yeoja itu riang.

 

Semua yang ada diruangan itu diam. Menatap adegan yang dibuat Siwon dan yeoja -yang ku akui cukup manis- itu.

 

Siwon menatapku, aku menatapnya sedikit cemburu?? Lalu tiba-tiba Jiwon eonnie mencairkan suasana.

 

“Ahh, karna semuanya sudah berkumpul, mari kita rayakan ulang tahun oppaku.”

 

Member yang lain berkumpul mengelilingi Siwon dan menyuruhnya meniup lilin. Aku memandang kue yang ada dalam tanganku lalu memandang kue yeoja itu. Jauh berbeda. Ku taruh kue ku diatas salah satu meja rias, lalu menghampiri mereka yang tengah menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Siwon.

 

Setelah lagu selesai Siwon segera meniup lilinnya.

 

“Oppa, potong kuenya lalu berikan suapan pertama pada orang yang kau sayangi.” yeoja itu berseru riang lagi.

 

Siwon tampak ragu, tapi akhirnya memotong kue itu juga. Ia mengambil satu sendok dan hendak menyuapkannya kearah Jiwon eonnie. Tapi lagi lagi yeoja manis-yang hiper aktif itu- sengaja menyerobot(?) sendok kue yang Siwon pegang lalu memakannya.

 

Semua orang tetawa, bahkan Siwon juga. Tapi kenapa hatiku mendadak sesak sekali. Aku berjalan mundur perlahan dan meninggalkan ruangan itu.

 

Siapa gadis itu??? Mengapa dengan kehadirannya mampu membuatku merasa aku tidak layak berkumpul bersama mereka. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku???

 

 

###

 

 

Aku bersembunyi disalah satu lorong dekat toilet. Entahlah. Aku hanya merasa butuh udara untuk bernapas.

 

Siapa yeoja itu??? Apakah dia seorang ELF?? Bagaimana ia bisa menerobos masuk keruang ganti?? Lalu mengapa member Super Junior lainnya tidak terkejut dengan kedatangannya?? Baiklah, sepertinya mereka terkejut, tapi seolah mereka sudah mengenal yeoja itu. Aku berpikir keras, tapi tak kunjung kutemukan jawabannya.

 

“Kenapa kau disini??”

 

ehh, ada seseorang yang menegurku.

 

“Oppa..” aku sedikit terkejut. Ternyata Donghae oppa.

 

“Kau tidak mau memberikan selamat untuk Siwon??”

 

“Ahh, tadi aku kebelet oppa, jadi aku mencari toilet.”

 

“Oyaa?? kenapa dari tadi kau tidak masuk ketoilet?? Malah berdiri didepannya saja.”

 

aissshh, aku ketahuan.

 

“A-ani, tadi aku sudah masuk. Geurae, aku kembali ke mereka dulu.”

 

Aku beranjak menuju ruang ganti Super Junior lagi. Donghae oppa sepertinya tahu yang aku pikirkan. Gawat.

 

Kembali keruang ganti aku hanya menemukan Jiwon eonnie yang tengah mengobrol dengan Sungmin oppa. Yang lainnya entah kemana, sibuk dengan urusannya masing-masing kurasa. Perlahan aku masuk lalu mendekat kearah Jiwon eonnie duduk. Bermaksud untuk ikut mengobrol dengan mereka. Tapi yang kudengar justru percakapan dua orang lainnya. Siwon dan yeoja yang tidak kuketahui siapa. Tengah mengobrol asyik dibalik sofa dibelakang Jiwon eonnie dan Sungmin oppa.

 

“Oppa, aku rindu padamu,”

 

“Ne, aku juga merindukanmu. Bagaimana sekolahmu??”

 

“Aku sudah lulus dengan predikat murid terbaik. Sebentar lagi aku akan masuk universitas.”

 

“Oyaa, chukhae.”

 

“Oppa, bisakah kita kembali seperti dulu?? Kau bilang kalau aku sudah lulus sekolah aku bisa jadi istrimu.”

 

Deg.

 

“Aigoo,”

 

“Kau sudah berjanji oppa. Bagaimana kalau besok kita berkencan keliling Paris, kau mau kan?!”

 

Apa lagi ini?? Yeoja itu?? Istrinya?? Kencan?? Choi Siwon, kau harus menjelaskan sesuatu padaku.

 

“Aku akan menunjukan keromantisan kota Paris padamu.”

 

Siwon diam, mungkin sedang berpikir.

 

“Ayolah oppa~ kapan lagi kau akan ke Paris kan, manfaatkan waktumu disini. Aku janji akan mengajakmu ketempat-tempat yang menarik.” yeoja itu nampaknya masih berusaha membujuk Siwon.

 

“Baiklah, aku rasa aku punya waktu satu hari untuk berkeliling. Kau harus jadi tour guide-ku dengan benar.”

 

“Siap oppa, aku sudah menyusun daftar tempat-tempat yang akan kita kunjungi. Kau harus mau ketempat-tempat itu, tidak boleh protes. Ara?”

 

“Baiklah, princess.”

 

mwo??? Princess?? Menjijikan. Aku sudah tidak tahan lagi berada disini.

 

“Eonnie, aku pamit yaa. Aku rasa aku sedang tidak enak badan.” aku segera pamit pada Jiwon eonnie.

 

“Mwo?? Kau sakit?? Biar Siwon oppa mengantarmu kembali ke hotel.”

 

“Ahh, gwaenchana eonnie, aku bisa pulang sendiri. Aku duluan yaa eonnie, annyeong Sungmin oppa.”

 

aku segera berjalan keluar gedung konser. Bagaimana mungkin aku mau diantar Siwon, yang ada aku akan menelannya hidup-hidup. Apa aku berlebihan?? Terserah lahh. Aku hanya butuh udara segar -lagi.

 

###

 

Langit malam kota Paris sungguh indah, apalagi menikmatinya dibawah Eiffel. Lumayan untuk menenangkan pikiranku. Melupakan sejenak Siwon dan yeoja yang entah siapa namanya. Kuharap dengan memandang Eiffel dapat melupakan kejadian barusan. Entah aku akan bisa pulang kehotel tempatku menginap atau tidak, yang jelas aku ingin menikmati malam ini didepan Eiffel sebelum besok malam aku kembali ke Seoul.

 

Seharusnya liburanku yang memang hanya dua hari ini bisa kumanfaatkan, tapi rencanaku gagal total. Satu hari kemarin aku hanya berkutat dengan alat-alat dapur bersama Jiwon eonnie. Dan besok sudah dipastikan aku hanya akan berdiam diri didalam kamar hotel. Sudahlah. Tapi mengapa yang datang kesini berpasangan semua. Apa mereka mau pamer padaku.

 

“Kau bilang sedang tidak enak badan, kenapa ada disini??” ommo suara Simba menggema. Kenapa aku berhalusinasi mendengar suaranya??

 

“Yak, apa yang kau lakukan disini?? Memangnya kau tahu jalan kembali kehotel, hah??” sekarang ia berdiri dihadapanku. Aku cukup terkejut. Bagaimana ia bisa menemukanku.

 

“Aku yang seharusnya bertanya apa yang kau lakukan disini, hah??” seharusnya dia sedang beristirahat, bukankah konsernya baru selesai dua jam lalu.

“Lagipula aku masih punya mulut untuk bertanya kalau aku tersesat.” lanjutku.

 

“Ck. Balik bertanya. Kajja kembali kehotel.” Siwon menarik tanganku.

 

“Aniya. Aku masih ingin disini.” aku menghentak genggamannya. Aku ini masih cemburu, ok aku mengakui aku cemburu.

 

Siwon hanya menghela napas kasar.

 

“Minggir, kau menghalangi pemandangan Eiffel-ku.” dia memang berdiri dihadapanku sementara aku sedang duduk dibangku taman yang menghadap Eiffel.

 

Siwon menyingkir lalu duduk disebelahku. Aku diam, dia juga. Kami memandangi Eiffel dalam diam. Lama kami diam hingga aku entah mengapa merasa risih, seperti ada yang memandangiku. Kutoleh kearah Siwon. Dan benar saja, ia sedang memandangiku.

 

“Kenapa menatapku seperti itu? Kembalilah kehotelmu, aku sedang ingin sendiri.” aku berucap datar dan kembali fokus pada menara besi indah dihadapanku.

 

Hening. Tak ada suara sedikitpun yang keluar dari bibir Siwon. Kulirik kesamping. Cih, dia benar-benar pulang??

 

“Huuhhhhh” aku menghela napas panjang.

 

Lihatlah Shin Rae Seok, bahkan ia tetap pergi setelah kau mengusirnya. Tanpa bertanya keadaanku, apa yang aku rasakan. Parahya ia juga tidak berusaha menjelaskan siapa gadis itu. Siapa sebenarnya gadis itu?? Ia mampu mengubah Siwon dalam sekejap.

 

Atau apa yang sebenarnya aku rasakan?? Apa rasa cemburuku ini berlebihan?? Sejak pertama berkenalan dengan Siwon entah mengapa aku merasa dia itu jauh berbeda denganku. Entahlah, kadang aku merasa tidak pantas berada disampingnya. Mungkin apa yang aku rasakan dulu benar adanya. Sudahlah Shin Rae Seok, lupakan masalah ini. Biarkan siapapun gadis itu, mau mendekati Siwon atau apa. Lagipula status kami masih berpacaran, tidak ada ikatan dalam hubungan ini.

 

Sekali lagi aku menghela napas panjang. Lalu bangkit dari dudukku dan beranjak untuk kembali kehotel.

 

Sreeeettt~

 

Aku kembali terhempas dibangku taman, seseorang menarik tangganku untuk kembali duduk dikursi kayu itu.

 

“Apa yang kau lakukan??” aku terkejut dan menatap Siwon tajam. Sejak kapan ia kembali?

 

“Duduklah sebentar disini.” dia memeluk bahu.

 

“Lepas. Aku ingin kembali kehotel.” aku melepaskan dekapannya.

 

“Isshh, kau ini kejam. Sudah tidak memberiku selamat, kuminta menemaniku pun kau menolak.” wajahnya cemberut.

 

Aku bangkit berdiri tidak menggubris kata-katanya lalu hendak beranjak.

 

“Waegure??” lagi-lagi Siwon menahan lenganku, kali ini suaranya terdengar serius.

 

Aku belum berbalik menatapnya. Kuhembuskan napas berat, lalu menatapnya.

 

“Saeng-il chukhaeyo.” kukecup pipi kirinya lalu beranjak meninggalkannya.

 

-PoV End-

 

-Siwon PoV-

 

“Saeng-il chukhaeyo.”

 

cup.

 

Ia mengecup pipi kiriku lalu beranjak meninggalkanku. Apa-apaan yeoja ini. Aku tahu ia datang ke Paris untuk membuat surprise untukku. Jiwon yang memaksanya ikut. Tapi apa yang kudapat??? Sikapnya begitu dingin. Apa karna Lee Minji tiba-tiba muncul?? Minji itu adik kelasku waktu sekolah dasar. Ia selalu menganggap aku ini malaikat pelindungnya, bahkan sampai sekarang. Dia tidak berubah selalu menggapku seperti itu meski aku sudah menjelaskan tentang hubunganku dengan Rae Seok. Tapi aku hanya menganggapnya yeodongsaeng, tidak lebih.

 

“Kajima~”

 

Dia berhenti.

 

Aku menghampirinya dan menatap matanya.

 

“Waegure?? Marhaebwa?? Apa kau tidak penasaran dengan yeoja tadi??” aku mencoba menggodanya.

 

“Mwo?? Nu-nugu?? Itu bukan urusanku. Terserah siapapun gadis itu, tidak ada urusannya denganku.” jawabnya gugup.

 

“Oyaa?? Bagaimana kalau dia adalah yeoja yang aku kenal dengan baik sejak aku kecil?”

 

“Terserah, dia itu siapamu Choi Siwon. Kalau dia memang lebih baik aku akan mundur. Lagipula kita ini hanya pacaran, kau boleh meninggalkanku kalau kau menemukan gadis yang lebih baik dariku.”

 

“Yak!”

 

“Itu benar bukan, selama kita tidak terikat status pernikahan, kita bisa mencari yang lebih baik.” ucapnya tegas, entah menahan emosi.

 

“Yak! Shin Rae Seok, siapa yang mengijinkanmu berbicara seperti itu?? Tidak ada yang lebih baik selain kau.”

 

Apa-apaan gadis ini, seenaknya saja berbicara. Dia tersenyum getir.

 

“Sudahlah, aku lelah. Aku ingin kembali kehotel.” dia beranjak berbalik.

 

“Yak! Aku belum selesai bicara. Kau ini tidak sopan. Sudah telat memberikan selamat, tidak memberiku kado. Aku ini masih berulang tahun.”

 

“Bukankah aku sudah memberimu selamat. Ahh yaa, kadomu sepertinya tertinggal diruang ganti, Jiwon eonnie yang membantuku membawanya tadi.”

 

“Kalau begitu, ayo kita ambil kadoku dulu.”

 

“Shiro, itu kadomu, ambil saja sendiri.” dia menolakku mentah-mentah.

 

“Yak! Kau itu kenapa siih?? Kau cemburu pada Minji??” aku sudah tidak tahan, susah sekali menggodanya kali ini.

 

“Mwo?? Nuguya?? Aku?? Cemburu?? Jangan harap.” dia tampak terkejut tapi segera bisa merubah ekspresinya.

 

“Baiklah aku jelaskan, yang tadi memberiku surprise itu Lee Minji. Dia teman masa kecilku, aku hanya menganggapnya teman. Dia sudah seperti adikku, dia juga sahabatnya Jiwon.” aku tidak tahan dan akhirnya menjelaskan semuanya.

 

“Sudah kubilang aku tidak perduli dia siapa. Setiap yeoja berhak berdekatan denganmu.”

 

Tanpa menunggu aku membalas pernyataannya, ia beranjak meninggalkanku. Aku terpaku sejenak sebelum akhirnya tersadar.

 

“Yak, Choi Siwon!” ia tersentak saat kutarik tangannya dan membawanya kesuatu tempat.

 

Kau harus menurut Shin Rae Seok. Atau aku akan memaksamu dengan cara yang lebih ekstrim.

 

###

 

Aku membawa Rae Seok kesebuah cafe yang sudah sepi pengunjung. Akan sangat merepotkan kalau aku dikenali, apalagi aku tidak mengenakan penyamaran sama sekali. Aku menyuruh manager mempersiapkan cafe ini barusan.

 

“Choi Siwon lepaskan aku!” pintanya dengan suara yang ditekan karna kami sedang menuju ruangan private sambil melewati beberapa pengunjung yang masih tinggal.

 

Aku menghiraukan perkataannya dan lebih erat menggenggam tangannya.

 

Sampai diruang private aku menuntunnya duduk disebuah meja yang telah dipersiapkan dengan lilin dan beberapa makanan. Agak terlambat untuk disebut dinner, tapi cukup cocok kalau kusebut date. iyaa kan??

Ia tak bergeming dan hanya menatap meja kami dengan seksama.

 

-End of PoV-

 

 

-RaeSeok PoV-

 

Siwon membawaku kesebuah ruangan private didalam cafe yang terlihat sudah sepi pengunjung. Disuruhnya aku duduk didepan sebuah meja yang dihiasi lilin dalam gelas-gelas bening. Kyeopta.

Diatas meja sudah tersedia berbagai macam makanan, dan aku cukup terkejut mengetahui benda kotak yang kubuat susah payah enam jam yang lalu menjadi pusatnya dan berada ditengah-tengah meja dengan letak sebuah lilin menyala yang menghiasinya sama persis seperti pertama aku menaruhnya.

 

Aku terpaku. Darimana dia mendapatkannya?? Bukankah kue tart buatanku sudah kubuang? Ahh aku ingat, aku tidak membuangnya, hanya menaruhnya dimeja rias ruang ganti. Ck

 

“Wae?? Kau terkejut aku bisa mendapatkan kue ini??” tanyanya sedikit menggodaku.

 

“Anii, hanya saja kue ini seharusnya dibuang.” jawabku datar.

 

“Enak saja. Ini kue ku. Aku harus memakannya sampai habis.”

 

“Cih, mengaku-ngaku. Itu kue buatanku.” apa-apaan dia, mengakui kue buatanku. Aku susah payah membuatnya tahu.

 

“Akhirnya mengaku juga. Gomawo, kau sudah susah payah membuatkanku kue.” ucapnya sambil tersenyum-manis??

 

Aisshh aku dijebak, dia hanya ingin mendengar aku membuatkan kue itu untuknya. Ck >.<

 

“Ayoo dimakan, sepertinya enak.” ia berucap kembali dan hendak memotong kue itu.

 

“Yak! Make a wish dulu lalu tiup lilinya baru potong kue.” intrupsiku.

 

Ia menurut, memejamkan mata sebentar lalu meniup lilinnya. Entah kenapa melihatnya meniup lilin dan tersenyum seperti anak kecil, bibirku ikut tetarik membentuk busur terbalik. Dia sungguh manis.

 

“aaa, buka mulutmu.” ia mengarahkan sesendok kue itu kemulutku.

 

Aku menerimanya dan mengunyah kue itu. Mashita, ternyata masih enak. Kupikir sudah basi.

 

“Eottae?? Enak bukan?? Yeojachinguku yang membuatnya spesial untukku.” ucapnya bangga.

 

Entah mengapa aku hanya mampu tersenyum membalasnya. Aku mengambil sesendok kue itu juga dan mengarahkannya kemulutnya.

 

“Masitaaaa~” serunya riang seperti anak kecil.

 

“Kajja makan menu yang lainnya juga. Aku tahu kau belum makan malam kan.” ucapnya lagi sambil menaruh steak yang sudah dipotongnya keatas piringku. Aku hanya mampu tersenyum.

 

Ditengah acara makan itu Siwon memandangiku -lagi.

 

“Wae?? Apa ada saus dipipiku??” tanyaku bingung.

 

“Aniya, apa kau sudah tidak kesal lagi padaku? Kau sudah tidak cemburu pada Minji kan??” tanyanya.

 

Aku menatapnya sedikit kesal, padahal tadi mood-ku sudah bisa diatasi. Aku manaruh pisau dan garpuku cukup keras.

 

“Jangan bahas masalah itu lagi.” ucapku lalu menenggak segelas air putih.

 

“Jadi kau benar-benar cemburu??” pekiknya keras.

 

ck, Choi Siwon. Kau terlalu frontal. Ku akui aku cemburu, tapi tidak perlu memekik seperti itu kan. Aku cukup lega ini ruangan private, jadi kurasa tak akan ada yang dengar.

 

“Ne, kau puas!” ucapku sarkastik.

 

“Hahaha sudah kubilang dia hanya yeodongsaeng bagiku. Haha”

 

“Cukup Choi Siwon, kalau kau hanya ingin mentertawakanku, lebih baik aku pulang.” aku beranjak berdiri.

 

“Ya,ya~ aku hanya bercanda.” Siwon menahan lenganku.

 

“Maafkan aku, ne? Nanti aku akan menceritakan semua tentang masa kecilku, tapi sekarang-” ia menggantung kalimatnya dan menjentikan jarinya.

 

Tiba-tiba alunan merdu terdengar.

 

“Berdansalah denganku.” ia menggenggam tanganku erat.

 

“Mwo?? Shiroooo, aku mau kembali kehotel.” tolakku.

 

“Yak, ini kan masih ulang tahunku.”

 

Ia mulai menarikku kepelukannya. Meletakan kedua tanganku dibahunya dan ia meraih pinggangku. Aku hanya bisa menatapnya.

 

“Gomawo, untuk kuenya, untuk kadonya. Aku akan selalu menggunakannya.”

 

Aku teringat syal rajutan yang sengaja aku buat sebagai kado untuknya, juga sebuah masker bergambar kuda.^_^

Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya dan

 

ssraaakkk~

 

“Yakk! Kalian mengganggu~” ucap Siwon

 

Ommooo, kenapa semua member Super Junior ada disini????? Wajahku panasssss. Choi Siwonnnnn~

 

 

-END-

Advertisements

[WonRae Series] kencan Rahasia di Pulau Jeju

Title                 :               [WonRae] kencan Rahasia di Pulau Jeju

Author             :               Desti Mulyanti a.k.a Shin Rae Seok

Cast                 :                       * Choi Siwon

* Shin Rae Seok

* and others

Genre              :               comedy romance (?)

Rating             :               PG-15 (sebenernya aku ga ngerti masalah rating ini XP)

-Rae Seok PoV-

Annyeonghaseo, bagaimana kabar kalian?? Ada yang bisa menebak dimana aku sekarang???? Kalian tidak bisa??? Kalian payahhh

Kalian mau tahu dimana aku sekarang?? Aku berada dipulau Jeju.. 😀

Yaa aku sedang berlibur setelah dua minggu penuh mengikuti ujian yang sangattt memusingkann..

Yeeeaayy akhirnya aku dan teman-temanku bisa sedikit merefresh otak kami..

Huaaaaa menyenangkan sekali bisa berlibur bersama-sama seperti ini. :))

Kami baru saja selesai makan siang direstoran hotel dan sekarang kami melanjutkan perjalanan wisata kami ke pantai Jungmun.

“Huaaa indahnya,”seru Hyori sambil merentangkan kedua tangannya menikmati semilirnya angin pantai.

“Ne,” aku pun ikut merentangkan kedua tanganku.

Kuhirup dalam-dalam udara yang segar ini hingga memenuhi paru-paruku yang sudah lama tak menghirup udara bersih. Baiklah, aku berlebihan. Tapi aku senang bisa bermain air.. Hyaaa aku berlari kearah laut dan seketika ombak menerjang kakiku.

Hyori pun tak mau kalah dan mengikuti apa yang aku lakukan.

“Rae Seok-ah,,” seru Hyori. Aku pun memutar tubuhku menghadapnya.

Byuuuurrrrrr~~

Hyori sengaja menyipratkan(?) air kearahku.

“Yakk!”

Tak mau kalah aku pun membalas perlakuan Hyori.

***

“Rae Seok-ah,, bagaimana dengan yang ini??” tanya Hyori sambil menghadap cermin besar.

“Bagus, cocok sekali dengan warna kulitmu,” jawabku sambil mengacungkan dua ibu jariku.

Sekarang kami tengah berada disalah satu toko pakaian dipinggir pantai. Pada akhirnya kami terpaksa membeli pakaian ganti karna pakaian kami basah akibat bermain air. Kanapa kami tidak mengganti pakaian dihotel saja?? Ayolah, haruskah kami berjalan kehotel dengan pakaian basah, lagipula jarak hotel kami menginap dan pantai cukup jauh. Jadi lebih baik beli pakaian baru saja, sekalian untuk oleh-oleh juga, hahaha

“Apa kau tahu?? Kudengar Siwon oppa sedang ada di Jeju,,”

kudengar seorang yeoja berseru dibelakang sofa tempatku duduk.

Tunggu dulu,, siapa tadi yang dia sebut??? Siwon??? Apa Choi Siwon-ku??? Ehhh, bolehkah aku menyebutnya begitu??

“Nde?? Jeongmalyo?? Sedang apa dia disini?? Apa bersama member Super Junior lainnya??” tanya yeoja yang satunya dengan semangat.

Mwo?? Member Super Junior lainnya?? Jadi benar yang mereka maksud adalah Choi Siwon-ku?? Kenapa aku tidak tahu dia ada di

Jeju??

Baiklah aku mengaku, selama ujian kemarin aku memang melarangnya menghubungiku dengan alasan untuk berkonsentrasi

dalam ujian. Tapi separah itukah sampai dia lupa mengabariku?

Seingatku, aku memberitahunya kalau ujianku hanya dua minggu.

“Kalau begitu aku akan pilih yang lain juga untuk eomma dan saengku. Kau bagaimana??”

Ahhh aku hampir lupa kalau ada Hyori.

“Kau duluan saja. Nanti aku menyusul,”

Aku kembali fokus mendengarkan percakapan dua yeoja tadi.

“Ne, kudengar dia sedang melakukan syuting sebuah TV show bersama member lainnya,” ucap sii yeoja berkacamata.

“Jinjja?? Apa kau tahu lokasi syutingnya?? Siapa tahu kita bisa melihat proses syutingnya dan bertemu langsung dengan Siwon oppa,”

“Sayangnya aku tidak tahu lokasinya. Pihak stasiun televisi menolak membocorkan lokasi syuting mereka,” jelas yeoja berkacamata itu lagi dengan tampang sedih.

“Yahhh, padahal aku ingin sekali melihat Siwon oppa dari dekat,”

Hmmm sepertinya memang harus aku duluan yang menelponnya.

“Kenapa tidak kau telpon saja,”

Omonaaa, Han Hyori~~ dia muncul dari balik punggungku.

“Yak! Kau mengagetkanku tahu,”

“Siapa suruh melamun. Sudah telpon saja,”

Astagaa bagaimana anak ini bisa tahu apa yang aku pikirkan. Ck

“Nanti saja,” jawabku acuh.

“Huaaaa lihattt Choi Siwon dikabarkan akan berpasangan dengan aktris cantik Moon Geun Yong dalam TV show kali ini,” tiba-tiba Hyori berseru kencang sambil melihat ponselnya.

“Mana?? Mana?? Mana??” seruku tak kalah heboh.

“Selalu saja tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan Choi Siwon.” ucap Hyori datar sambil memasukkan ponselnya kedalam tas lalu berjalan keluar dari toko meninggalkan aku yang mati penasaran

karana ulahnya.

***

Hari kedua dipulau Jeju

Kami hanya mengunjungi meseum Haenyeo. Lalu kami mengunjungi tempat pembuatan cinderamata dari kayu yang ada di Jeju, sekalian membeli oleh-oleh juga untuk keluarga di Seoul.

Malamnya kami makan malam bersama ditepi pantai ditemani lantunan lagu live dari para pengamen yang ada disekitar pantai.

Huaaa sangat romantiss. Setelah itu kami kembali kekamar masing-masing.

***

21.15 pm KST

Aku menatap benda elektronik canggih yang tergeletak tak berdaya diatas kasurku. *bahasa’a lebay aja yaa*  Haruskah aku

menelponnya duluan??? Harus kuakui aku adalah tipe wanita yang gengsian untuk menelpon laki-laki terlebih dahulu, kalau bukan urusan yang mendesak. Terlebih lagi untuk menanyakan keberadaan sii Mr.Gesture itu, bisa besar kepala dia kalau aku menelpon duluan.

Baiklah Shin Rae Seok, simpan dulu rasa gengsimu itu, Bukankah kau merindukannya!

“Baiklah Shin Rae Seok, hanya menanyakan kabar saja. Tidak lebih!” ujarku meredam gengsiku sendiri.

Tanganku baru saja akan terangkat menyentuh benda tak berdaya bernama ponsel itu ketika dengan nyaringnya lagu Mr.Simple berbunyi.

♥ Mr.Gesture ♥  calling~

Oh iyaa, ini rahasia mengenai contact name-nya itu yaa. Aku menamainya begitu karna Donghae oppa yang memberitahuku kalau Siwon sering menunjukan gerakan-gerakan aneh saat sedang berbicara. *won: maksud lo??* Awalnya aku tidak percaya, tapi setelah melihatnya sendiri dalam suatu acara aku baru percaya. Dan jangan beritahu dia juga, aku terbahak-bahak melihatnya. *dilempar sendal ama wonnie*

Kembali keponselku yang semakin meraung-raung melantunkan lagu Mr.Simple itu. Panjang umur sekali dia. Baru saja aku memikirkan untuk menelponnya, dia sudah menelpon duluan.

“Yeoboseo,”

“Kenapa lama sekali mengangkatnya??”

“ehh, tadi… aku sedang dikamar mandi,”

“Sudahlah. Kau ada di Jeju kan??”

Tumben sekali pria ini langsung to the point pada tujuannya. ehh atau aku yang kurang menyadarinya saja yaa? Sudahlah.

“Ne, darimana kau tahu??”

“Yi Seok hyung yang memberitahu. Dihotel mana kau menginap??”

ah, aku lupa memberitahu. Aku ini dua bersaudara. Aku punya seorang oppa bernama Shin Yi Seok. Dia enam tahun lebih tua dariku. Dia bekerja diperusahaan appa sebagai seorang Marketing Consultant. Tumben sekali Yi Seok oppa tahu apa yang sedang aku lakukan. Biasanya oppaku yang ‘tampan’ itu selalu sibuk dengan urusan kantornya.

“ohh, hmm, aku menginap dihotel Paradise. *sumpah, author mengarang bebas nama hotel’a* Bagaimana syutingmu??” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Darimana kau tahu aku sedang syuting??”

ehh, sepertinya ada bagian yang aku lupakan.

“eng… Kemarin aku sempat mendengar dua yeoja remaja membicarakanmu,”

“ohh, jadi kau sudah tahu aku ada di Jeju juga. Syutingnya lancar, meskipun sedikit melelahkan.” kenapa nada bicaranya datar sekali.

“Kau bersama siapa saja di Jeju??”

“Bersama teman satu angkatanku dikampus,”

“Lalu berapa lama kau di Jeju??”

Kenapa aku merasa seperti sedang diintrogasi yaa. Atau perasaanku saja. Heyy bukankah itu bagus, tandanya dia mengkhawatirkanku bukan.

“Hanya tiga hari, lusa siang kami sudah kembali ke Seoul. Kau sendiri berapa lama disini??” rasanya aku juga penasaran berapa lama dia akan berada disini.

“Hanya seminggu, tiga hari lagi kami kembali ke Seoul,”

“ohhh,” aku hanya sanggup ber-oh ria. Setelah itu hening cukup lama.

Entah mengapa jika berhadapan langsung atau berbicara dengannya seperti ini, aku suka tiba-tiba salah tingkah sendiri. Entah pergi kemana semangat menggebu-gebuku seperti saat ditoko pakaian tempo hari.

“hmm, besok bisakah kita bertemu??” tiba-tiba dia bersuara.

Ada apa ini?? Tidak terjadi sesuatu yang buruk kan? Tumben sekali dia meminta seprti itu, biasanya langsung muncul tanpa memberitahu.

“hmm, besok aku ada rencana berkeliling pulau bersama teman-teman ke-”

“Kali ini saja,” selanya cepat. eehhh o.0

“Ada apa?? Apa ada maslah??” jujur aku sedikit khawatir.

“Jadi besok kita bisa bertemu. Aku akan menyelinap kehotelmu jam 8,”

“Baiklah, tapi-”

“Sudah dulu yaa, aku harus kembali syuting,”

Pip.

Dia memutuskan sambungan. Ada apa yaa??

***

07.35 am KST

“Benar kau tidak mau ikut dengan kami??” tanya Hyori untuk yang ke- keberapa yaa, aku tak menghitungnya. Aku tak memberitahunya kalau aku ada janji dengan Siwon.

“Ne, aku merasa tidak enak badan. Kalian pergi saja,” aku berpura-pura terlihat lemah.

“Kau yakin??” Hyori menyelidik.

Aku hanya mengangguk. Aku sudah berulang kali mayakinkannya bahwa aku sedang tidak enak badan. Tapi sepertinya anak satu ini sulit untuk dikelabui.

“Baiklah, selamat bersenang-senang,” serunya riang kemudian hilang dibalik pintu.

Aku menautkan alisku bingung. Tiba-tiba ponselku bergetar, sebuah pesan masuk.

From : Hyori

Aku tahu kau ada janji dengan Mr.Gesture-mu. Selamat bersenang-senang. Jangan lupa uang tutup mulutku. Atau aku akan mengadu pada Mr.Jung ^^v

Siaall. Anak itu jauh lebih pintar dari perkiraanku. Kadang aku menyesal sudah bersahabat lama dengannya. Dia selalu tahu apa yang ada dipikiranku.

To : Hyori

Baiklah, nona Han Hyori yang errr cantik. Aku akan membelikanmu sesuatu, tapi ingat jangan sampai dosen killer itu tahu aku

membolos diacara tour singkatnya.

Send~~

***

“Aku sudah disamping hotelmu, kau dimana??”

“Aku juga sudah disana, sebentar,” mataku bergerilya mencari sosoknya yang mungkin saja sedang menyamar supaya tidak terlihat.

Tapi dimana?? Dimana?? Dimana?? *kok kayak ayu tingting yaa -,-‘ *

“Aku disini,” tiba-tiba dia muncul dibelakangku.

Hangat. Aku memeluknya????

“Sudah lama tidak bertemu,” dia membalas pelukanku.

ehh kenapa jadi formal begini. Aku melepaskan pelukanku.

“Hari ini menyamar yaa??”

“Pakaian yang aneh!”

Sepertinya dia sedang bad mood, nadanya datar sekali.

“Apa? Tidak kok,” aku serius akan ucapanku.

Bahkan dia terlihat tampan. Ani, sangat tampan. Aku serius, lihatlahh, kemeja putih lengan pendek dengan gaya cassual dipadu dengan celana panjang berwarna krem ditambah fedora hitam pluss kacamata coklat. Bukankah dia terlihat sangattttt tampan *bayangin aja kayak foto diatas tapi jaket kulitnya dilepas. Jeoseonghamnida kalo gambaran saya jelek, abiss saya juga bingung gimana gambarinnya -.-” *

“Kau mau pergi kemana?? Hari ini aku libur satu hari,”

“ohh yaa, eng…” aku mengeluarkan sebuah brosur.

“Hari ini yang lain pergi ketempat-tempat yang ada dibrosur ini, jadi… Kita harus pergi ketempat lain,”

“Baiklah, mari kita kencan,”

***

Kami sampai disebuah kuil dikaki gunung Halla.

“Tidak ada yang datang kesini.”

Kuil ini memang sepi. Suasananya juga damai dan sejuk, banyak pepohonan yang rindang. Pasti sangat menyenangkan picnic bersama disini. Tapi~~

“Ya Choi Siwon, disini tertulis ‘Tempat Terkenal Ilmu Hitam Santet’ …” >..<

“Memang benar. Tapi bukan hanya itu kan, baca baik-baik!”

‘Jika berdoa dengan sungguh-sungguh dikuil ini, dewa akan mengabulkan permohonan jodoh kita!’

Ohh yaa, waahhh benarr. Aku harus berdoa sungguh-sungguh.

(10 menit kemudian)

“Sudah belum???” -_______-

***

Akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling disekitar kuil. Ternyata kuil ini cukup ramai, terbukti dengan banyaknya toko-toko cinderamata sampai kedai-kedai makanan baik yang kecil ataupun besar.

Kami berhanti sebentar dikedai es krim lalu kembali meneruskan perjalanan kami dikuil ini melalui jalan-jalan setapak yang sengaja dibuat mengikuti area taman yang sangat asri sambil menikmati es krim kami.

“Menyenangkan sekali yaa berjalan santai seperti ini,” seruku.

Dia tidak merespon.

Kenapa dia diam saja yaa???aku memutar tubuh menghadapnya.

ehhh, dia sedang menatapku.

“wae-waeyo??” aku tergagap karna salah tingkah ditatapnya seperti itu. Untung suaraku masih bisa keluar, wajahku pasti memerah >///<

Dia menunjuk pipiku. Ada apa dengan pipiku?? Apa ada yang aneh??

“Makanya kalau makan pelan-pelan,” dia mengelap pipiku yang ternyata belepotan(?) karna es krim yang kumakan.

Aku hanya menunjukan senyum tiga jariku.

“Setelah ini kita kemana??”

“Terserah kau saja, kemana pun yang kau mau,”

Uwwoooowww kenapa dia mendadak romantis begitu. ehhh, apakah kata-katanya tadi bisa disebut romantis???

—-

Kami terus berjalan dijalan setapak ini sambil bergandengan tangan. Entah mengapa sepertinya dia tidak mau melepaskanku karna genggamannya cukup erat.

Heyy, ada apa itu??? Kenapa ramai sekali???

“Siwon-ah, ada apa disana?? Kenapa ramai sekali,” aku menunjuk kearah kerumunan orang-orang yang berkumpul didepan kolam air.

Sedang apa mereka berkumpul disana?? Lihat, bukan hanya wisatawan domestik saja yang berkumpul, tapi wisatawan asing pun ikut berkumpul.

“Ayoo kita lihat!!”

“aa—” aku menarik tangannya sebelum dia protes.

Wahhh, sepertinya ada sebuah perayaan. Lihat, ada tari-tarian dan makanan tradisional.

“Jeoseonghamnida ajjhushi, ada perayaan apa ini??” tanyaku pada seorang ajjhushi yang sedang menari.

“ah, kami sedang merayakan hasil panen, agasshi.”

“ohh, arraseo. Apa kami boleh ikut bergabung??” kulihat Siwon menatapku dengan tatapan ‘apa maksudmu dengan kami??’ hahaha

“Ne, silahkan. Kami memang sengaja mengajak wisatawan ikut bergabung,”

“Gamsahamnida, ajjhushi.”

Suara musik tradisional mengalun dengan meriah dan para penari menggerakan badan kesana-kemari mrngikuti irama. Tak mau kalah wisatawan asing pun ikut menari bersama meskipun kuyakin mereka tidak mengerti dengan tarian ini. Tanpa sadar aku pun sudah bergerak-gerak ditempat seperti turis asing yang ada disebelah kami.

Kulihat Siwon diam tanpa bersuara memandangku yang sudah terbawa irama.

Tiba-tiba ajjhushi tadi menarik tanganku untuk menari ditengah-tengah. Tanpa memperdulikan Siwon yang kini menatapku garang aku menari dengan lincahnya ditengah-tengah kerumunan. Semua wisatawan ikut menari ketenggah dan suasana menjadi semakin ramai. Tanpa memperdulikan tatapannya, aku menarik

Siwon ikut menari ketengah. Dia tidak menolak ajakanku ataupun ikut menari.

“Bagaimana kalau ada yang mengenaliku??” dia menurunkan fedoranya agar wajahnya tidak terlihat.

Aku tak menghiraukan pertanyaannya dan sengaja memaksannya ikut menari.

Dannn

Berhasilll. Dia menari dengan sangat lincah tanpa memperdulikan apakah orang-orang akan mengenalinya atau tidak.

***

Ternyata menari bisa membuat badanku segar. Walaupun sedikit lelah akibat menari tanpa aturan, tapi aku senaaangggg. Apalagi Siwon juga ikut menari dengan lincahnya seperti aku. Aku senang dia bisa sejenak melupakan pekerjaannya yang menyenangkan sekaligus melelahkan.

Kriiiuuukkkk~~

Oopss, sepertinya perutku sudah tidak bisa diajak bersahabat lagi.

Aku laparrr. Kutarik lengan Siwon dan melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. 13:45 AM. Pantas saja perutku sudah berbunyi. Tidak terasa ternyata kami sudah cukup lama berkeliling.

***

“Huaaaa, baru kali ini aku makan ditengah sungai seperti ini,” ^w^

“Diatas sungai,” dia memperbaiki pernyataanku.

Kami sedang menikmati makan siang diatas aliran sungai seperti yang dikoreksinya tadi. Uwoooww pemandangan disini sangat sangat sangat indah, suasananya damai karna suara percikan air.

“Tidak akan jatuh kan??”

“Tentu saja tidak,” jawabnya datar.

Huuhhh aku kira mood-nya sudah kembali saat menari tadi, ternyata tidak berpengaruh -,-

“Hari ini menyenangkan yaa, jalan-jalan bersama sambil berpegangan tangan, makan es krim, menari bersama dan membeli souvenir. Semoga kita bisa kencan seperti ini lagi yaa, hehehe”

“Iyaa, kalau aku berhenti jadi public figure, hal seperti ini bisa kita lakukan setiap hari,”

Deg.

Apa maksudnya?? Apa dia bener-benar lelah dengan rutinitasnya??

“Sudah selesai belum?? Ayoo pergi, aku bayar dikasir dulu yaa,”

“okehh, :)”

Sraaaakk! Byuuuuurrrrr!

“Hah!?”

***

“Aku sudah selesai mandi. Gomawo,”

“Kau tinggal sendiri dipenginapan ini??”

Yaa, setelah dengan tidak elitnya tercebur direstoran tadi aku memutuskan mandi dan berganti pakaian dipenginapan Siwon.

Akan tidak elit lagi kalau aku pulang ke hotel tempatku menginap dengan basah kuyup.

“Tidak. Manager hyung juga ikut, tapi dia sedang keluar,”

“ohh. Pemandangan dibalik taman tidak terlihat, eo??”

Greeepp.

Omonaaa, jantungku, jantungku. Tiba-tiba dia memelukku dari belakang.

“Siwon-ah, apa yang ka-”

Astagaaa, kapan dia akan berhenti membuat jantungku bekerja tidak normal?

Belum sempat bertanya, bibirku telah dibungkam oleh bibirnya. Dia melumatnya lembut dan rasanya, manis. Aku terbuai dan mengalungkan lenganku dilehernya. Dia semakin memperdalam ciuman kami.

Eomma, apa yang aku lakukan. Sebenarnya aku tahu dia bohong bilang hari ini libur. Aku sempat menelpon Donghae oppa tadi, dan Donghae oppa bilang Siwon tiba-tiba hilang dan menginap ditempat yang berbeda dengan member Super Junior lainnya. Lebih parahnya dia menghilang dari lokasi syuting. Aku tahu saat ini dia sedang berada dititik jenuhnya, tapi bukan berarti dia harus berhenti kan.

Syuuuuttt~

“Tidak boleh, kau tidak boleh berhenti,” aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga.

“Mwo??”

“Kalau kau tidak suka boleh saja kau berhenti, tapi bukan itu masalahnya kan?!”

“Ayoo kita pergi!”

***

19.00 pm KST

“Diakhir acara saya persembahkan, Super Junior…….”

Aku tersenyum senang menatap televisi kecil diruang makeup ini.

Akhirnya aku berhasil membawa Siwon kembali ke lokasi syuting meski sedikit terlambat.

Tiba-tiba suara gaduh terdengar dibalik pintu. Aku tahu betul suara siapa itu. Siapa lagi kalau bukan member Super Junior yang Super berisik. *plaaakk dibakar ELF*

Cklekkk

Leeteuk oppa muncul pertama dibalik pintu. Aku menoleh dan memasang senyumku.

“Rae Seok-ah, kau melihat syuting tadi??” tanya Leeteuk oppa. Acara yang mereka bintangi memang live.

“Ne, oppa. Kalian kerennn,”

“Kami atau hanya Siwon??” tanya Yesung oppa.

“Aku bagaimana?? Aku juga keren tadi, aktingku juga baguss,” kali ini Hyukjae oppa yang minta dipuji.

“Yaa! Lee Hyukjae, jangan narsis!!” teriak Shindong oppa.

“haha kalian semua kerenn kok, bukan hanya Simba.”

Yang lain hanya bisa tertawa dan kembali mengganti baju mereka.

Tentu saja diruangan lain, aku masih sangat waras untuk melihat mereka semua bertelanjang dada. Ckck

“Aku ganti baju sebentar,” Siwon  mengacak rambutku pelan lalu berlalu kekamar ganti.

“Gomawo, kau menyelamatkan kami,” Donghae oppa mendekatiku.

“Cheonmaneyo oppa, aku yakin dia pasti akan kembali kesini meski aku tidak memaksanya,”

“Sebenarnya sejak berangkat kesini dia memang sudah menunjukan gelagat aneh, tapi aku tidak menanggapinya, hingga kemarin dia pindah kepenginapan dan menghilang dari lokasi syuting,”

“Oppa, mianhae, aku mohon kalian mengerti sedikit, dia sedang dititik jenuh dengan pekerjaannya, bukan dengan kalian tapi dengan semua jadwalnya yang padat, apa oppadeul lain tahu tentang ini??”

“Aku mengerti Rae Seok-ah, aku juga pernah mengalaminya, kau tidak usah khawatir yang lain belum mengetahui hal ini, hanya aku dan Leeteuk hyung yang tahu. Aku hanya ingin kau selalu menyemangatinya dan selalu disampingnya,” jelas Donghae oppa sambil menepuk pundakku.

“Kau tahu, sepertinya dia merindukan penyemangatnya.”

“Maksud oppa??”

“Yaa, siapa lagi kalau bukan kau. Susah sekali siih bicara denganmu,”

“hehe begitukah? Aku memang tidak menghubunginya dua minggu ini.”

“Mwoo?? Dua minggu tanpa mengabari??”

Aigoo, lama-lama didekat Donghae oppa aku bisa tuli. Kenapa dia harus berteriak-teriak =.=

“Memangnya kenapa??”

“Pantas saja Simba uring-uringan. Sudahlah kalau dijelaskan kau juga tidak akan mengerti,”

Apa-apaan siih Donghae oppa =,=

“isshh aku tahu apa maksudmu, oppa pasti ingin bilang aku ini bodoh kan, ck” aku mendelik sebal kearahnya. menyebalkan =.=

“ahh, aniyo. Kau yang bilang sendiri kan.” jawabnya cengengesan(?)

Aku hanya mendengus sebal, dasar ikan menyebalkan >,<

“Sudahlah jangan marah, nanti cantiknya hilang loh,” ucap sii ikan itu sambil mengusap kepalaku.

“Yakk Lee Donghae! Apa yang kau lakukan! Turunkan tanganmu.”

Uwoooww cepat sekali dia ganti pakaian. Dan apa tadi yang dikatakannya?? Dia cemburu melihatku dan Donghae oppa??

“Aku tidak melakukan apapun,” Donghae oppa memasang senyum kecutnya sambil mengangkat tangannya dari kepalaku lalu membentuk tanda v.

“Kajja, kita pergi!” ucap Siwon angkuh sambil menarik tanganku.

***

“Kau yakin mau masuk?? Lima belas menit lagi akan tutup.”

“Ne, aku sangat ingin kesini. Jeball, besok kan aku sudah kembali ke Seoul.”

Museum Taddy Bear di Jeju. Hiyaaaa aku sangat ingin masuk kedalam. Akhirnya dengan sedikit paksaan Siwon mau mengantarkanku kesini. Heii ini hari terakhirku disini dan gara-gara dia mengajakku kencan aku jadi melewatkan kesempatan melihat museum ini dengan teman-temanku. Aku harus balas dendam.

“Huhh, merepotkan.”

“Sudahlah, kita kan sudah sampai, ayo masuk!” aku keluar dari mobilnya.

——

Kalian tahu, museum ini sangat menakjubkan. Lihatlah berapa banyak boneka taddy bear dengan cosplay yang berbeda disini. Ada yang bergaya dengan pakaian Hanbok, John Travolta, Marlyn Monroe, sampai pangeran William dan Kate Midleton. Bahkan serial drama yang populer juga ada cosplay taddy bear-nya. Aku sungguh suka semua boneka itu meskipun aku bukan pecinta taddy bear. Siwon hanya mengekoriku dibelakang sambil sesekali memperhatikanku yang sangat antusias dengan boneka-boneka ini.

Karena ini sudah malam dan pengunjung mulai sepi, Siwon tidak menyamar seperti tadi siang.

Aku berkeliling sambil terus bergumam kagum ketika sampai ditiap etalase yang memajang taddy bear – taddy bear lucu itu. Tak lupa aku juga berpose didepan taddy bear itu dan menyimpannya dalam memori kameraku. Hingga aku sampai dietalase yang menampilkan taddy bear dengan cosplay Goo Jun Pyo yang ada diserial drama Boys Before Flowers. Huaaaaaa dia favoriteku >v<

“Huaaaa Goo Jun Pyo, tetap tampan walau hanya bonekanya saja>V<

“Aku jauh lebih tampan,” ucap Siwon santai.

Apa dia bilang?? Percaya diri sekali dia. Memang siih dia sedikit lebih tampan, hanya se-di-kit.

“hah, percaya diri sekali kau. Goo Jun Pyo-ku jauh lebih tampan daripada dirimu.”

“Cih~ dia itu jauh dibandingkan denganku, lihat saja rambutnya yang ikal. Sangat tidak menarik alias jelek.”

“isshhh baiklah kau itu tampan, tapi Goo Jun Pyo sangat sangat sangat tampan.”

Dia hanya mendengus kesal tak mampu membalas kata-kataku.

“Tolong fotokan aku.” aku menyerahkan kameraku padanya lalu berpose didepan etalase.

“Enak saja. Aku bukan tukang foto keliling.”

“Ayolah, kapan lagi aku sempat kesini.”

“Kau harus membayar tiap jepretanku, arra.”

“isshh perhitungan sekali.”

Jepret~

Jepret~

Jepret~

Aku mengambil kameraku dari tangan Siwon lalu melihat hasil jepretannya. Hmm bagus juga ternyata. Sepertinya lain kali aku tidak usah menyewa fotografer. #plaaakk

“Kajja. Kau sudah puas kan?! Aku sudah lapar.”

“issshh kita kan baru sebentar.”

“Kau tidak lihat, museum ini sudah mau tutup.”

Ahhh, rasanya aku baru sebentar disini. Kenapa sudah mau tutup saja??

“Arra. Tapi kau belikan aku boneka itu dulu, oke.” aku menunjuk boneka kotak berwarna pink dengan rambut ikal khas Goo Jun Pyo.

“Mwo?? Aku tidak bawa uang.” katanya singkat.

“ahh, tapi kau bawa kartu kredit kan. Ayolah, aku ingin sekali boneka itu. Nanti aku ganti uangnya. Kau kan tahu tadi dompetku basah.”

“Sudah ku bilang aku tidak bawa uang. Dompetku pun tertinggal dipenginapan.”

“Ayolah Simba, kau sangat tampan kalau mau membelikanku.” bujukku.

“Aku memang tampan.”

Isshhh Choi Siwon menyebalkan >,<

***

“Kapan kau mau pulang?? dengan pakaian itu?” tanyanya begitu kami sampai dipenginapannya. Dia mengusirku? Setelah dari museum taddy bear kami makan malam direstoran seafood pilihannya.

“Wae??” aku memperhatikan diriku. Aku memakai dress krem selutut dan sneakers kesayanganku. Saat aku tercebur tadi Siwon membelikanku dress dan heels, tapi aku menolak memakai heels-nya.

“Ini sudah pukul setengah sepuluh dan pakaianmu seperti habis mendatangi pesta, apa dosenmu tidak akan curiga kalau kau pulang ke hotel begitu.”

Ahh benar juga yaa, aku seperti habis mendatangi pesta, kecuali sneakers-ku. Aigooo pukul setengah sepuluh.

“Aigooooo, setengah sepuluh. Omo, bagaimana ini?? Aku harus menghubungi Hyori. Omoo handphoneku kan rusak karna basah. Huaaaa Simba bagaimana ini???” aku panik.

“Yak, jangan panik. Pakai handphone-ku saja.” dia menyodorkan handphone-nya.

Aku mengangguk lalu segera merebut handphone Siwon. Kutekan beberapa angka nomor Hyori.

“Yeoboseo..”

“Yakk! Shin Rae Seok, apa yang sedang kau lakukan??? Dimana kau sekarang??? Kenapa tidak mengabariku hah??? Kenapa handphone-mu tidak aktif???” aku menjauhkan handphone dari telingaku. Hyori membrondongku dengan berbagai pertanyaan.

“Mianhae Hyori-ya, tadi handphone-ku tercebur disungai. Akan aku ceritakan semuanya nanti. Apa aku bisa kembali kehotel sekarang??”

“Huhh, kau ini. Tidak bisa. Semua sudah kembali kekamar masing-masing dan dosen mengawasi.”

“Aigooo, bagaimana aku bisa kembali??”

“Kau kembali besok pagi saja. Aku akan menjemputmu dekat hotel pagi-pagi sekali.”

“Tidak ada pilihan lain kah???”

“Tidak ada.” jawab Hyori lemah.

“Baiklah.” aku pasrah.

Kukembalikan handphone Siwon.

“Bagaimana?? Kau bisa kembali kehotel??” tanya Siwon.

Aku menggeleng sambil menunduk.

“Apa boleh buat. Tidurlah dikamar!”

***

06.30 am KST

Aku sampai dilobi hotel dengan selamat. Hyori segera menarikku masuk kedalam lift menuju kamar kami.

“Kau harus ceritakan semuanya padaku, Sukkie-ya. Tak boleh terlewat sedikitpun.” cerca Hyori ketika kami sampai didalam kamar kami.

“Ne, akan aku ceritakan semua. Tapi kau lihat dulu souvenir yang aku beli untukmu.” aku tersenyum misterius.

“Wahhh, itu baru sahabat yang baik. Mana mana??”

“Kau siap?? Tadaaaaa~ ”

“Mwo???”

“Wae?? Kau tidak suka??”

“Ini yang kau sebut souvenir??”

“Ne, boneka jerami. Bagus kan??”

“Apanya yang bagus Shin Rae Seok! Ini menyeramkan.” -______________-

“Tapi sangat tradisional.”

END~

[WonRae Series] Cacar!

Title                 :           [WonRae] Cacar!

Author             :           Desti Mulyanti a.k.a Shin Rae Seok

Cast                 :           * Choi Siwon

* Shin Rae Seok

* and others

Genre             :           comedy romance (?)

Rating             :           PG-15 (?)

#####

-Rae Seok PoV-

Dengan malas aku mengganti-ganti channel tv dihadapanku. Sudah sejak sejam yang lalu aku memandangi acara tv tanpa minat untuk menontonnya sedikitpun. Entahlah apa yang aku pikirkan.

Baiklah aku mengaku, sebenarnya aku merindukannya. Dia yang memenuhi pikiranku saat ini. Siapa??

Ahh iyaa, aku belum mengenalkan namjachinguku pada kalian. Baiklah, jangan ada yang terkejut yaa.. okey, namjachinguku adalah seorang idola yang dikagumi banyak yeoja-yeoja diseluruh penjuru Seoul. Ani, bukan hanya di Seoul kurasa, seluruh dunia pasti mengenalnya belum lagi ditambah dengan embel-embel nama grupnya. Baiklah aku tidak akan bertele-tele lagi. Namjachinguku adalah Choi Siwon Super Junior. Terkejut?? Silahkan. Karna pada kenyataannya hubungan kami memang tidak diketahui publik.

Sudah hampir satu tahun enam bulan hubungan kami berjalan, tapi tidak ada yang tahu kecuali keluarga dan kerabat dekat kami. Ohh ayolah, kalian tahu alasannya kan.

Geudae, sepertinya aku belum memperkanalkan diri juga yaa.

Baiklah, Shin Rae Seok imnida, aku seorang mahasiswi tingkat tiga di KyungHee University. Aku hanyalah yeoja biasa yang cukup tertutup, oleh sebab itu hubunganku dan Siwon tidak terekspos. Selain karena tuntutan managementnya, juga karna aku tidak begitu menyukai keramaian. Lalu bagaimana kami bias saling jatuh cinta?? Lain kali akan author jelaskan. #plaakkk~ *author dilemparin bias* *tangkep*

Okey kembali ketopik. Aku merindukannya. Sungguh. Sangat sangat sangat sangat sangat merindukannya. Mengapa?? Karna sejak sebulan yang lalu dia ada di China untuk syuting drama mandarinnya. Biasanya dia akan mengirimiku pesan atau bahkan

menelponku jika break syuting. Atau kadang kami melakukan videocall hanya sekedar untuk melihat wajah masing-masing.

Tapi sudah hampir lima hari ini aku tak mau mengangkat telpon darinya. Bukan karna aku sibuk atau aku sudah tidak mencintainya lagi, hey bukankah sudah kubilang aku sangat sangat sangat merindukannya. Itu jelas menandakan aku masih mencintainya kan?! Tapi masalahnya sekarang adalah aku belum siap bertemu dengannya.

Mengapa?? Jawabannya cukup singkat. Karna cacar. See, cukup singkat bukan?!

Tapi tidak sesingkat efeknya.. T___T

Kalian tahu kan apa efeknya. Ayolah, kalian pasti pernah mengalami cacar juga kan. Bercak merah disana-sini, dan saat bercak itu pecah dan mengering, hasilnya sungguh buruk bagi yeoja-yeoja sepertiku.

Karna apa?? Karna bercak itu akan mengering dan meninggalkan bercak hitam terlebih lagi jika bercak itu menguasai wajahmu, seperti aku. Diwajahku ada lima titik bercak hitam, satu diujung hidung, dua didahi, satu dipipi dan satu lagi dibawah mata. Huweee aku merasa aku adalah itik buruk rupa versi manusia(?).

Oleh sebab itu aku malas keluar rumah dan parahnya aku berakhir lumutan karna bosan dirumah. Kalau saja aku menekan rasa malu

ku dalam-dalam mungkin saat ini aku sedang berada dikampus bersama sahabat-sahabatku. Tapi sayangnya aku hanyalah yeoja biasa yang memiliki rasa malu dan gengsi yang cukup tinggi. Huhh Aku sungguh tidak tahan lagi untuk mendengar suaranya, aku

merindukannya. Tapi bagaimana kalau dia ternyata sudah pulang dan mengajakku kencan?? Andwae,, dia bilang masih akan berada di China seminggu lagi. Apa aku telpon dia saja yaa??

Neo gateun saram tto eopseo

Juwireul dureobwado geujeo georeoh deongeol

Eodiseo channi

Neo gatchi joheun saram

Neo gatchi joheun saram

Neo gatchi joheun ma eum

Neo gatchi joheun seonmul

Neomu dahaeng iya aesseo

Neorel jikyeojul geu sarami baro naraseo

Eodiseo channi

Na gatchi haengbokhan nom

Na gatchi haengbokhan nom

Na gatchi unneun geureon

Cheogoro haengbokhan nom

♥ my wonwon ♥ calling…

Aigoo,, eotthokae?? Baru juga dipikirin, ehh dia nelpon duluan.

Angkat engga angkat engga angkat engga angkat engga angkat engga…

“Yeoboseo..” entah dorongan rasa rindu yang teramat kuat atau apa, tanpa sadar aku sudah mendekatkan handphoneku ketelinga. Lebih parahnya aku yang menyapanya duluan >.<

“Yeoboseo, jagi-ah kenapa lama sekali mengangkatnya?” suaranya diseberang sana terdengar merdu menyapa telingaku. Oh Tuhan aku sudah gila karna merindukannya.

“Ya~ jagi-ah, kau masih disana kan??”

“ahh ehhm nde. Kenapa menelpon? Bukankah kau sibuk syuting?”

Aigoo, apa yang baru saja kukatakan? Kenapa jawabanku ketus begitu.

“Aniya. Aku hanya khawatir dan terlalu merindukanmu. Makanya saat break ini aku menelponmu, habis pesanku tidak dibalas.”

jawabnya lembut.

Hah? Pesan? Kapan dia mengirimiku pesan? Kulihat layar handphoneku, dan benar saja ada pesan baru darinya sepuluh menit yang lalu. Kutaruh lagi handphoneku didepan telinga.

“Mianhae, aku tidak tahu.” ucapku menyesal.

“Gwaenchana, yang penting aku bisa mendengar suaramu. Apa kau sedang tidak sibuk? Tumben mau mengangkat telponku.”

“Nde??”

Aiiishh kenapa aku bisa lupa dengan alasan bodohku itu. Well, lima hari yang lalu aku beralasan sedang sibuk mengurus tugas kuliahku sehingga tidak bisa menerima telpon darinya. Dan sebagai gantinya kami akan tetap bertukar pesan dengan catatan aku akan segera membalas pesannya, karna dia tahu aku paling malas mengetik pesan.

“Apa kau sudah selesai mengerjakan tugas kuliahmu?” ulangnya.

“ahh ne, sudah selesai. emhh, kapan kau akan pulang??”

ya!! mulut pabo. Kenapa aku bertanya seperti itu. Bahkan bekas cacarku pun belum hilang. Bagaimana bisa aku menemuinya. >.<

“Hmm sepertinya–”

‘siwonie~, sekarang waktunya kau take. ppalliwa.’

Belum sempat aku mendengar jawaban kapan dia pulang, aku mendengar Donghae oppa memanggilnya. Darimana aku tahu itu suara Donghae oppa? Pertama karna Siwon bilang akan melakukan syuting drama bersama Donghae oppa. Kedua karna dia menggunakan bahasa Korea yang fasih sementara dia ada di China.

“Jagi-ah nanti aku telpon lagi yaa. Sudah waktunya aku take. Mianhae.”

pip.

***

Hembusan angin sore terasa membelai wajahku. Ditambah dengan rasa segar dari masker jagung muda yang aku pakai. Jangan berpikiran aneh dulu. Menurut beberapa informasi yang kudapat dari internet, menggunakan masker jagung muda adalah salah satu cara untuk menghilangkan bercak hitam karna cacar. Oleh sebab itu sejak

kemarin aku mulai rutin memakainya. Walaupun hasilnya belum terlihat, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba kan.

Kupejamkan mataku untuk lebih menikmati hembusan angin musim semi digazebo yang terbuka ini. Sungguh damai.

Neo gateun saram tto eopseo

Juwireul dureobwado geujeo georeoh deongeol

Eodiseo channi

Neo gatchi joheun saram

Neo gatchi joheun saram

Neo gatchi joheun ma eum

Neo gatchi joheun seonmul

Neomu dahaeng iya aesseo

Neorel jikyeojul geu sarami baro naraseo

Eodiseo channi

Na gatchi haengbokhan nom

Na gatchi haengbokhan nom

Na gatchi unneun geureon

Cheogoro haengbokhan nom

Tanpa melihat siapa yang menelpon, aku segera menyentuh tombol hijau dilayar telponku dan segera menuntunnya ketelingaku.

“Yeoboseo??” sapaku ramah.

“Jagi-ah, kenapa gelap sekali.”

Deg.

“Aku ini sedang videocall, tahu.”

Aku tersentak kaget dan langsung terduduk dilantai kayu gazeboku, membuat beberapa masker jagung muda diwajahku jatuh.

Andwaeee apa yang harus aku lakukan?? Tidak mungkin aku membiarkan siwon melihatku memakai masker ini.

“Andwaeeee”

pip.

-End of PoV-

-Siwon PoV-

“Andwaeeee”

pip.

Mwo?? Kenapa dimatikan?? Kenapa juga dia harus berteriak?? Oh Tuhan, semoga apa yang aku takutkan tidak benar-benar terjadi. Aku masih terpaku menatap layar handphoneku yang menampilkan dia yang sedang tersenyum manis sebagai wallpaper.

Entah sejak kapan Donghae menatapku dengan senyum gelinya dari arah pintu.

“Waeyo?? Kau merindukannya??” tanyanya seraya duduk disofa sebelahku.

“Sangat Hae.” jawabku lemas.

“Tenang, besok siang kita kembali ke Seoul kan?!”

“Ne, tapi aku tidak yakin dia juga merindukanku.” lirihku.

“Waeyo?? Ada yang ingin kau ceritakan??”

Hae, apa kau tahu kau sangat pengertian?! Kurasa tak ada salahnya juga menceritakan semua ini padanya. Siapa tahu Donghae

punya solusi yang tepat.

“Begini Hae, sudah lima hari ini Rae Seok menghindariku. Dia tidak mau menerima telponku dengan alasan sedang berkonsentrasi pada tugas kuliahnya. Tapi tadi saat aku menelponnya, dia malah berteriak histeris dan langsung memutuskan telponnya.” ceritaku panjang lebar.

“Apa dia menghianatiku, Hae? Apa dia selingkuh dengan pria lain karna bosan denganku? Atau dia sudah tidak mencintaiku lagi? Eotthokhae??” tambahku lirih.

“ckck kau berlebihan sekali wonnie-ah. Mungkin dia hanya butuh waktu untuk sendiri, atau mungkin dia memang sedang berkonsentrasi pada tugas kuliahnya. Sudahlah biarkan dia sendiri dulu, lagi pula besok kita sudah kembali ke Seoul kan. Tanyakan langsung padanya besok. Okeh.” sarannya sambil menepuk bahuku.

“Sekarang santai saja dulu. Sutradara-nim mengundang kita minum untuk merayakan selesainya proses syuting. Ayolahh.”

***

ciiiiiiiittttt~

taksi yang kutumpangi berhenti didepan sebuah rumah bergaya klasik. Dengan segera aku mengeluarkan koperku dari dalam bagasi. Kuhembuskan napasku mengusir rasa gugup dan lelah yang menjadi satu. Kutekan bel disamping pagar lalu tak lama terdengar suara dari interkom.

“Nuguseyo?”

“Annyeong eomonim. Ini aku.”

“ahh rupanya kau, chakamanyo.”

____

“Bagaimana syutingmu apakah berjalan lancar?” tanya eomonim sambil menyuguhkan secangkir teh dihadapanku.

“Ne, semuanya berjalan lancar. hmm eomonim, apa Rae Seok ada??” tanyaku to the point.

Hey, dari bandara tadi aku langsung menuju kesini hanya untuk menemuinya.

“Ada, dia masih tidur.”

ckck anak gadis pagi-pagi begini masih tidur. Kulirik jam tanganku, aigoo pantas saja dia masih tidur. Sekarang kan hari minggu. ck

“Sebentar eomonim panggilkan.”

-End of PoV-

 

-Rae Seok PoV-

“Rae Seok-ah, ireona!! Ini sudah siang, cepat bangun!!”

Mataku mengkerjap-kerjap menyesuaikan cahaya yang terang didalam kamarku.

“Ya! Gadis macam apa jam segini belum bangun. Rae Seok-ah ireonabwa!!”

iiisshh suara eomma lebih berpotensi membuatku tuli daripada sinar matahari ini.. |yaa iyaa lahh.. emang matahari ada suaranya.. #plaaak|

“Lima menit lagi eomma. Lagipula ini kan hari minggu.” aku menghiraukan perintah eomma dan kembali menarik selimut.

“ya!! Shin Rae Seok, ireona! ada seseorang yang mencarimu.” sekali lagi eomma menarik selimutku.

“aiiissshh suruh kembali nanti siang saja eomma.”

aigoo apa eomma tidak kasian padaku. Semalam aku bergadang lagi menonton drama favoriteku. ck

“ini sudah siang, Shin Rae Seok. Palliwa temui orang itu. Dia sudah jauh-jauh datang dan meluangkan waktunya hanya untuk bertemu

denganmu.”

aiiishh siapa siih orang penting itu.

“arraseo. Aku bangun sekarang.”

____

Dengan masih mengenakan piyama dan nyawa yang belum terkumpul, aku turun keruang tamu.

Pasti yeoja pencinta kura-kura itu yang tega-teganya membangunkanku di hari minggu seperti ini. Siapa lagi kalau bukan

sahabatku yang paling ‘pengertian’, Han Hyori. ck

Yeoja satu itu senang sekali membuat sahabatnya sengsara. huhh

Aku masih saja mengucek(?) mataku sampai akhirnya aku menangkap sosoknya tengah tersenyum menatapku. Aku terpaku dianak tangga terakhir.

Omoo omoo..

Dia datang. My Horse. Akhirnya. Aku sangat merindukannya.

“annyeong,”

Sapaannya membuatku sadar.

Aigoooo wajahku. Andwaeeeee >.<

Tanpa pikir panjang aku langsung berlari kearah taman belakang.

“Ya-”

pabo. Shin Rae Seok neo jeongmal paboya. Kenapa aku malah lari kearah gazebo?? Ini kan ruang terbuka dan cuaca sedang bagus

sekarang, wajahku pasti akan terlihat jelas. Segeraku kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku serapat yang aku bisa.

“Ya! Kenapa lari? Apa kau tidak merindukanku??”

Dia menghampiriku tapi aku masih membelakanginya.

“Ya-” dia menyentuh pundakku. Aku masih bergeming. Dia memaksaku berbalik. Aku menolak. Dia terus memaksa. Dan aku kalah atas tenaganya yang lebih besar. Aku sungguh tak mampu memandangnya. Kutundukan kepalaku masih tetap menutup wajahku.

“Ya, waegurae??”

“Anwio.” ucapku dengan mulut yang terbekap(?) tanganku sendiri.

“Lalu kenapa wajahmu ditutup??”

Deg.

“Kau tahu, aku sangat merindukan wajahmu yang lucu ini.”

Apa kau yakin?? Kurasa tidak setelah melihat wajahku sekarang. Aku semakin tertunduk dan merapatkan tanganku menyembunyikan wajahku.

Dia memegang kepalaku dengan kedua telapak tangannya yang besar, menegakkan wajahku supaya menghadapnya. Lalu perlahan dia berusaha menyingkirkan tanganku yang menutupi wajahku. Aku menahan tanganku dengan sekuat tenaga mengingat tenaganya

yang jauh lebih besar daripada tenagaku.

“jagi-ah,, waeirae?? Neon gwaenchana?”

“Anwio. Pulanglah. Aku sedang ingin sendiri.”

“Apa kau tidak merindukanku?? Kita tidak bertemu selama satu bulan lebih. Ada apa? Ceritalah.”

“Anwio. Pu–” omo, dia melepas tanganku saat aku lengah.

“Kan kalau begini aku bisa melihat wajahmu.”

“Simba-ah kau tida–” aku berusaha menutup wajahku kembali. Tapi dia menahannya dan langsung memelukku. Hangat.

“Jeongmal bogoshipoyo.” bisiknya tepat ditelingaku.

Nado Simba-ah. Tapi wajahku. Apa kau tidak menyadarinya??

“Kau masih tidak mengaku merindukanku?” ucapnya seraya melepas pelukannya.

“ng- hm- a-apa kau tidak merasa ada yang aneh denganku?”

“hmm aku tahu. Piyamamu.”

“anio. Bukan itu.”

Alisnya bertaut pertanda tidak mengerti.

“ng- nghm- kau tidak merasa aneh dengan- ng- …. wajahku??”

Dia mensejajarkan wajahnya dengan wajahku.

“Ada apa dengan wajahmu??”

“ahh,, arasseo.” jawabnya sendiri sebelum aku menjawab.

“Kau menyadarinya?”

Dia mengangguk.

“Wajahmu itu… disini, disini, disini..” tunjuknya pada bekas cacarku yang terlihat jelas.

“Aku tahu… Bekas ca-” aku menghentikan kalimatnya dengan telunjukku dibibirnya.

“Ne. Tidak usah diteruskan. Apa kau tidak merasa risih? Kau tahu? Bagi seorang yeoja, wajah itu sangat penting. Kau tidak malu

dengan wajahku yang seperti ini? Kau pasti ma-” kali ini dia yang menghentikan kalimatku dengan telunjuknya dibibirku.

“Jadi karna itu? Kau menolak telpon dan videocall ku hanya karna itu? Hanya karna cacar?? Ck kau akan tetap cantik dengan atau tanpa bekas cacar itu, kau tahu?”

“Gwojhwitmwal.”

“Aniya. Aku serius. Bagiku kaulah gadis tercantik dimuka bumi ini.”

Aku mendengus. Hanya gadis bodoh yang percaya gombalan seperti itu dijaman sekarang ini. Okeh, aku lah gadis bodoh itu, karna aku percaya.

“Ya! Aku serius.”

“Aku tidak percaya.” aku sok jual mahal.

Dia menangkubkan kepalaku dalam kedua telapak tangannya, membuatku fokus menatapnya.

“haishh. Dengarkan aku! Tak perduli berapa banyak bekas cacar yang ada diwajahmu sekarang, kau tetaplah yeojachinguku yang

paling cantik. Tak perduli sejelek apapun kau sekarang ini, bagiku kau tetap yang paling cantik. Aku akan menjadi satu-satunya laki-laki yang akan selalu bersamamu. Hatiku tak dapat berbohong bahwa hanya ada satu nama yang tertanam disana, yaitu kau. Karna hanya kau satu-satunya yeoja yang aku cintai. Selamanya.”

Oh Tuhan, aku meleleh. Rasanya kakiku sudah tak berpijak dianah lagi. Baiklah aku sedikit berlebihan. Tapi sungguh, aku terhipnotis akan kata-katanya. Aigooo O_O

“Jeongmalyo??”

Dia mengangguk mantap. Kurengkuh tubuhnya sangat erat. Aku benar-benar merindukannya.

Dia melepas pelukanku.

“Hanya ini sambutan untuk kepulanganku?” tanyanya.

Aku menautkan alisku pertanda tidak mengerti.

Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Mwo? Apa yang mau dia lakukan?? Aku tak bergerak. Dia semakin dekat. Nafasnya terasa hangat dipipiku. Aku menutup mataku malu. Wajahku pasti memerah.

Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik~

“Apa kau sudah sikat gigi??”

jggeeerrrr~

wajahku semerah kepiting rebus sekarang. Ya! Choi Siwon, mati kau!

“Hahaha..”

END

[last edited 19.05.2012]